Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

Gunadarma

Gunadarma

TUGAS KE-3 (Hubungan Interpersonal dan Cinta dan perkawinan)

Tuesday, 24 May 2016

Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukancontent melainkan juga menentukan relationship.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
  A.Model – model Hubungan Interpersonal
        Terdapat 4 model hubungan intrapersonal, yaitu :

      1.         Model Pertukaran Sosial (social exchange model)
        Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil atau laba (ganjaran dikurangi biaya).

        2.    Model Peranan (role model)
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan.

3.    Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua system terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan.

4.    Model permainan (games people play model).
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a)Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
b)Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c)Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

B.Memulai Hubu
    tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
1.            Tahap pembentukan
Tahap ini juga dikenal dengan tahap perkenalan. Tahap awal yang dilakukan adalah mencari tahu identitas orang yang dituju kemudian jika menemui kecocokan tahap selanjutnya adalah mencari tahu data demografis orang yang dituju.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu: 
a) informasi demografis; 
b) sikap dan pendapat (tentang orang atau objek); 
c) rencana yang akan datang;
d) kepribadian; 
e) perilaku pada masa lalu;
 f) orang lain; serta 
g) hobi dan minat.

2.            Tahap Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal selalu berubah-ubah, oleh karena itu untuk memelihara hubungan tersebut dibutuhkan untuk mengembalikan keseimbanan, beberapa faktor yakni :
a)      Keakraban  : Pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang
b)      Kontrol       : Kesepakatan pengontrolan
c)      Respon yang Tepat : Ketepatan respon dalam pesan verbal maupun nonverbal
d)     Nada Emosional yang Tepat : Keserasian suasana emosional ketika komunikasi sedang berlangsung

3.            Tahap Pemutusan Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:
a. Kompetisi : salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain.
b. Dominasi  : dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang merasakan hak-haknya dilanggar.
c. Kegagalan : dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai. 
d. Provokasi    :dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
e. Perbedaan nilai :  dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
C.Hubungan Peran
1.    Model Peran
Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus
memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat.
Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan
peranannya.
2.    Konflik
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena
pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda
status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu
dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan
melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan
mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut.
3.    Adequacy Peran dan Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang
diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi
(ketentuan) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan
dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau
harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
4.    Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sebagai konsekuensi adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar individu menjadi
spesifik atau terjalin hubungan intim. Adapun bentik intim terdiri dari persaudaraan,
persahabatan, dan percintaan.

D.Intimasi dan Hubungan Pribadi
-Intimasi ( kelekatan atau keakraban ) atau sering disebut juga sebagai   proximity,
propinquity. Orang yang mempunyai kesempatan paling sering kita jumpai adalah orang yang
sangat mungkin menjadi sahabat kita atau kita cintai ( Berscheid & Reis, 1998 ).
Festinger dkk (1950) menunjukkan bahwa ketertarikan dan kedekatan hubungan tidak hanya
tergantung pada fisik yang nyata, melainkan juga karena jarak fungsional. Jarak fungsional
menunjuk pada aspek desain arsitektur yang memungkinkan beberapa orang bertemu lebih
sering, Efek keakraban terjadi karena familiaritas.
Hubungan Pribadi
Ada dua hal yang mengawali suatu hubungan pribadi, yaitu kondisi suka dan cinta. Hal ini
berbeda menurut beberapa ahli psikologi seperti Rubin, menurutnya :
-    Kesukaan lebih didasarkan pada afeksi dan respek. Hal ini dikaitkan dengan kesepakatan
tentang kualitas positif seorang teman dan kebutuhan untuk menjadi sama dengan teman
tersebut.
-    Kecintaan  bersandar pada keintiman, kelekatan dan peduli terhadap kesejahteraan pihak
lain. Berawal dari hal – hal tersebut, terbentuklah suatu hubungan seperti relasi sosial dan
pasangan hidup. Baik relasi jangka pendek maupun jangka panjang.
  Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy
love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan atau mungkin hanya
salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah
hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet, 
E.Intimasi dan Pertumbuhan

Hal yang mempengaruhi keintiman itu tumbuh adalah cinta. Dan keintiman tidak akan
tumbuh jika tidak ada cinta. Keintiman adalah proses menyatakan siapakah kita sebenarnya
kepada rang lain, keintiman juga suatu kebebasan menjadi diri sendiri. Dan keinginan setiap
pasangan adalah menjadi intim.  Namun banyak respon alami kita adalah menolak untuk
terbuka terhadap pasangan karena beberapa hal, yakni :
1.   Tidak mengenal dan menerima siapa diri kita secara utuh
2.   Tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan menuju pernikahan.
3.   Tidak mempercayai pasangan dalam memegang rahasia.
 4.   Kita dibentuk menjadi seseorang yang berkepribadian tertutup. 
5.   Memulai hubungan atau pacaran bukan dengan cinta yang tulus.
2.      Cinta dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.
Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan,
perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Stenberg mengemukakan bahwa cinta memiliki tiga dimensi, yaitu hasrat, keintiman, dan
komitmen.
1.      Hasrat, dalam dimensi hasrat menekankan pada intensnya perasaan serta perassan yang
muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang mengalami
ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu,
merasa sangat bahagia dan lain-lain.
2.      Keintiman, dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan
yang mengikat mereka untuk bersama.
3.      Komitmen/keputusan, dimensi komitmen dimana seseorang berkeputusan untuk tetap
bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya.

Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang
membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam
budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim
dan seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara
pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk
keluarga.
A.Memilih Pasangan

 penelitian Bush dkk (Bus 1989; Buss dkk, 1990) dengan subjek dari 37 negara yang
menanyakan berbagai kriteria pemilihan pasangan (untuk menikah) dan seberapa penting
kriteria tsb, pada umumnya perempuan menilai kriteria ambisius, rajin, penghasilan yang
baik lebih tinggi (penting) daripada subjek laki-laki, dan subjek laki-laki menilai lebih
penting daya tarik fisik. Bagaimanapun perlu dicatat bahwa berbagai penelitian menyatakan
bahwa karakteristik paling tinggi pada laki-laki maupun perempuan adalah kejujuran, dapat
dipercaya, dan kepribadian yang baik.

b.      Hubungan Dalam Perkawinan
1. Romantic Love
Saat ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini
terjadi di saat bulan madu pernikahan. slalu bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh
cinta.
2.  Dissapointment or Distress
Di tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan
kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.Menurut Dawn
tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi
terhadap hubungan dengan pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini memilih
berpisah dengan pasangannya
3.  Knowledge and Awareness
Pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan
diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana      
kebahagiaan pernikahan itu terjadi. 
 4.  Transformasion
Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda  
akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini
sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam
mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan     
penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang     
nyaman dan tentram.
 5.  Real Lo
“Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman,                       
kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaskan
pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling         
memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih            
pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan  
pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa    
terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.

c.       Penyesuaian dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan

Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat
mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur
dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang
pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering
tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya
relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang
harmonis. Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang
mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak
pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
d.  Perceraian dan Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah akhir kisah indah, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru
banyak menemui masalah. Banyak dari orang-orang yang menikah pada akhirnya harus
bercerai. Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin
melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan.
Faktor penyebab perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
-          Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
-          Krisis moral dan akhlak
-          Perzinahan
-          Pernikahan tanpa cinta
-          Adanya masalah-masalah dalam perkawinan.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi
terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu
periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang
sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama
kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang.
Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan
bersama.
Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu,
jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah
perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk
masa depan yang lebih baik.
e. Alternatif selain Menikah
Ada juga beberapa orang yang memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mungkin
mereka beranggapan bahwa ketika kehidupan itu kita jalani dengan pasangan akan terasa
sulit karena menemukan berbagai persoalan yang nantinya kemungkinan bisa saja kita
hadapi. Akan tetapi hakikatnya menikah itu adalah ibadah. Hidup akan lebih indah melalui
segala bentuk kehidupan bersama pasangan. Seseorang yang memutuskan untuk sendiri
(single life) bisa saja disebabkan karena traumatik tersendiri yang pernah mereka rasakan
sehingga membuatnya untuk tidak berani lagi memulai hidup secara bersama. Pengalaman
memang berperan penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Ia bisa mengubahnya 
menjadi lebih kuat namun tidak sedikit yang lemah karenanya. Membuat seseorang takut 
memulai, namun juga menimbulkan arti yang mendalam.

Tugas ke-2 Penyesuaian diri dan Pertumbuhan Personal

Tuesday, 19 April 2016

Penyesuaian diri dan Pertumbuhan Personal

1. Pengertian Penyesuain Diri
Apakah Penyesuaian diri itu?
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut  dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu  yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.
2. Pertumbuhan personal
Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu
A. Faktor genetik :
  • Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
  • Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen
  • Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.

B. Faktor eksternal / lingkungan:
  • Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan
  •  Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya
Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Stress

Apakah arti stres itu? Apakah stres selalu bermakna negatif? Stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang.
Menurut Selye (Bell, 1996) stress diawali dengan reaksi waspada (alarm reaction) terhadap adanya ancaman, yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis, seperti: meningkatnya denyut jantung, yang kemudian diikuti dengan reaksi penolakan terhadap stressor dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga (exhaustion) jika individu merasa tidak mampu untuk terus bertahan.
Stres merupakan:
  • Respons terhadap kondisi lingkungan yang tak diinginkan, dan bagaimana tubuh bereaksi pada tuntutan yang dihadapi”.
  • Jika tuntutan berlebihan diberikan pada seseorang, hal tersebut dapat melampaui kemampuan orang tersebut untuk mengatasinya.
  • Responsnon-specific tubuh pada tuntutan yang diterima, baik yang menyenangkan atau tidak.
  • Tekanan yang tak teratasi, regangan atau kekuatan yang bekerja pada sistem fisik atau mental seseorang yang tidak berlanjut dapat menyebabkan kerusakan.
Jadi, stress dapat mempengaruhi fisik, psikis mental dan emosi. Tetapi, stress dapat mempunyai dua efek yang berbeda, bisa negatif ataupun positit, tergantung bagaimana kuatnya individu tersebut menghadapi stress atau bagaimana individu tersebut mempersepsikan stress yang sedang dihadapinya.
Pada tertentu sebenarnya kita memerlukan stres. Stres yang optimal akan membuat motivasi menjadi tinggi, orang menjadi lebih bergairah, daya tangkap dan persepsi menjadi tajam, menjadi tenang, dan lain-lain. Adapun stres yang terlalu rendah akan mengakibatkan kebosanan, motivasi menjadi turun, sering bolos, dan mengalami kelesuan. Sebaliknya stres yang terlalu tinggi mengakibatkan insomnia, lekas marah, meningkatnya kesalahan, kebimbangan, dan lain-lain.
Stres juga harus dibedakan dengan stresor. Stresor adalah sesuatu yang menyebakan stres. Stres itu sendiri adalah akibat dari interaksi (timbal-balik) antara rangsangan lingkungan dan respons individu.
Arti penting stress
  • Stress bisa berasal dari individu sendiri. Konflik yang berhubungan dengan peran dan tuntutan tanggung jawab yang dirasakan berat bisa membuat seseorang menjadi tegang.
  • Stress yang lain berasal dari kelompok seperti: hubungan dengan teman, hubungan  dengan atasan dan hubungan dengan bawahan.
  • Terakhir, stress bisa bersumber dari ke organisasian seperti kebijakan yang diambil perusahaan, struktur organisasi yang tidak sesuai dan partsipasi para anggota yang rendah.
  • Tipe-tipe Stres.
    1. Tekanan
    Tekanan itu muncul tidak hanya dalam diri sendiri , bisa jadi dari luar diri, karena biasanya apa yang kita sukai bertentangan dengan apa yang menjadi pandangan orang tua dan ini bisa menjadi salah satu tekanan psikologis terhadap anak yang akan berdampak stress.
    2. Frustasi
    Suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan sebagai akibat terhambatnya seseorang dalam mencapai apa yang di inginkannya .
    3. Konflik
    Konflik terjadi apabila ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang diantara beberapa orang, kelompok atau organisasi karena memiliki tujuan dan pandangan berbeda dalam upaya mencapai tujuan.
    4. Kecemasan
    Kecemasan itu suatu respon atau sinyal menyadarkan seseorang tentang perasaan khawatit, gelisah , dan takut yang sedang ia rasakan. Ini timbul dari emosi seseorang karena merasa tidak nyaman, tidak aman atau merasakan ancaman dan sering kali terjadi tanpa adanya penyebab yang jelas ini karena respon terhadap situasi yang kelihatannya tidak menakutkan atau bisa juga sebagai hasil rekaan.

    Syptom reducing responses terhadap stress
    • Respon terhadap stress
    Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566) penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu:
    Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
    • Defence mechanism
    1. Indentifikasi
    Identifikasi adalah suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya memiiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan sebagainya. Maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti dosennya.
    1. Kompensasi
    Seorang individu tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.
    1. Overcompensation/ reaction formation
    Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib saat melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
    1. Sublimasi
    Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang potong hewan.
    1. Proyeksi
    Proyeksi adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya.
    1. Introyeksi
    Introyeksi adalah memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seoarang wanita mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
    1. Reaksi konversi
    Secara singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalkan belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya menjadi pucat dan berkeringat.
    1. Represi
    Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya tadi siang.
    1. Supresi
    Supresi yaitu menekan konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”
    1. Denial
    Denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.
    1. Regresi
    Regresi adalah mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang digosipkan berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
    1. Fantasi
    Fantasi adalah apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi dirinya dengan orang yang ia cintai.
    1. Negativisme
    Adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunya dengan bolos sekolah.
    1. Sikap mengkritik orang lain
    Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.

    Pendekatan problem solving terhadap stress
    • Strategi koping yang spontan mengatasi stress
    Proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang cermat dan akurat . Misalnya , kita menghadapi masalah yang membuat kita stres jalan satu-satunya ialah yakin kepada tuhan dan berdoalah maka tuhan pun memberi jalan keluarnya kepada kita .
    –    Strategi coping yang spontan mengatasi stres ada dua yaitu :
    1. Strategi Terfokus Masalah yang disebut jugaProblem focus coping, yaitu upaya seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah atau situasi spesifik yang telah terjadi, sambil mencoba menemukan cara untuk mengubahnya atau menghindarinya. Strategi yang ditempuh untuk memecahkan masalah antara lain menentukan masalahnyamencari pemecahan alternative, menimbang-nimbang alternative tersebut, dan memilih salah satunya dan mengimplementasikannya.
    2. Strategi Terfokus Emosi yang disebut jugaEmotion focus coping, yaitu upaya untuk memecahkan emosi yang tidak dapat dikendalikan. Terdapat banyak cara untuk mengatasi emosi negative.